Industri Peer To Peer : Berhati-Hati Dengan Kemudahan

Beberapa bulan lalu jika kamu tahu, Cina berada dalam pergolakan industri Financial Technology yang cukup besar. Ratusan perusahaan peer to peer (P2P) lending di negara ini mengalami kejatuhan luar biasa setelah banyak kegagalan yang terjadi dalam proses pengembangan uang melalui P2P lending. Investor yang makin sadar dengan resiko penggunaan produk tersebut akhirnya menarik uang mereka karena tidak memiliki kepercayaan pada bisnis tersebut. Ini merupakan sebuah ironi mengingat P2P lending adalah lambang inovasi Financial Technology di sana.
Financial Technology menawarkan keuntungan yang memang tidak dimiliki oleh perbankan yaitu kecepatan mendapatkan pinjaman uang ataupun berinvestasi. Tapi yang harus kamu pertimbangkan mengapa sistem perbankan terkesan lebih rumit sebab mereka mampu memberimu pinjaman dalam jumlah besar dan mengutamakan keamanan buatmu sebagai nasabahnya. Pinjaman di P2P lending sifatnya terbatas sesuai regulasi. Soal investasi, ada yang berpendapat bahwa timbal baliknya lebih cepat dibanding produk konvensional. Hanya saja ternyata punya resiko yang dapat berakibat fatal seperti negara Cina.
Sebagai seorang investor yang menanamkan modal di perusahaan, masyarakat Cina menyukai sesuatu yang berlabel “dijamin” misalnya dijamin untung, dijamin kembali dan lain sebagainya. Hampir sama seperti orang Indonesia nggak sih? Nah, ketika hal tersebut tidak memenuhi ekspektasinya sehingga malah menghilangkan harta berharga, mereka protes. Bentuk kemarahannya yaitu menuntut pemerintah membekukan perusahaan itu melalui regulasi. Ketika satu per satu kasus diselidiki rupanya baru bisa diketahui bahwa selama ini ada praktek salah sehingga konsumen pun dirugikan.
Berkaca dari kasus Cina ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melarang penyelenggara (P2P) lending menjalankan skema on balance sheet lending yakni lembaga berperan meminjamkan uangnya kepada nasabah. OJK menilai bahwa skema tersebut malah membuka peluang penyalahgunaan dana nasabah. Langkah baik ini perlu disambut karena sebagai bentuk dari revolusi keuangan seharusnya Fintech menguntungkan masyarakat bukan sebaliknya.
Harus diingat jika bunga piutang bukanlah bentuk investasi. Sebab yang dinamakan investasi adalah penanaman modal yang berpotensi menghasilkan keuntungan untuk kebutuhan jangka panjang dan bersifat likuid. Oleh karena itu kamu sebagai masyarakat pun juga harus cerdas dalam menggunakan teknologi. Kenali untung sekaligus resikonya lalu pilih yang cocok sesuai kebutuhan. Dengan begitu kamu telah menyelamatkan hidupmu dari kehancuran keuangan.
Pemahaman Mapan di Usia 20an

“Gaji tetap, udah bisa nyicil rumah sekaligus jalan-jalan.” Barangkali itu yang ada di pikiran kalian ketika membayangkan sebuah kemapanan di usia muda. Mapan adalah perihal sensitif di Indonesia mengingat orang tua jaman dulu menilai kualifikasi seseorang dari bibit, bebet dan bobot tersendiri. Namun sesungguhnya mapan bukan hanya sebatas definisi di atas. Terdapat beberapa hal mendasar yang harus dimiliki sehingga layak disebut mapan di usia muda, yaitu:
Hidup teratur
Di fase ini kamu sudah mulai pandai mengatur apa saja yang kamu butuhkan baik dari dari sisi perencanaan keuangan maupun waktu untuk diri sendiri. Kamu juga berkenan memilah pertemanan yang bermanfaat serta kegiatan yang mampu menunjang potensimu. Sebab kamu tahu betapa berharganya waktumu.
Kebebasan finansial
Ini bukan soal kamu sudah bisa jalan-jalan atau beli apapun dengan uangmu sendiri. Tapi lebih ke apakah kamu sudah memiliki simpanan untuk hidupmu agar ke depannya tidak lagi bergantung pada orang lain atau orang tua lagi. Awali dengan menginvestasikan pendapatanmu ke Reksa Dana Saham yang cocok banget buat 5-10 tahun mendatang.
Visi dan misi
Umumnya banyak yang masih bingung tentang apa yang ingin mereka capai dan dapatkan di usia 20 tahunan. Biasanya kamu kenal dengan sebutan quarter life crisis khususnya buatmu yang berusia 25 tahun. Jika nanti menghadapi tahap ini, fokuskan kembali tujuanmu dan evaluasi lagi hal-hal yang sudah kamu kerjakan. Tiap orang punya kesuksesan masing-masing, maka dari itu jangan membandingkan diri yah.
Berani risiko
Setiap langkah tentu ada perhitungannya. Hanya saja jika kamu kebanyakan pertimbangan, malah kamu sulit maju. Apapun yang kamu jalani sekarang atau nanti, hadapi kemudian tekuni. Gagal itu sudah biasa dalam perjalanan hidup, tapi justru menjadi pelajaran yang tak ternilai. Berlapang dada dan pantang menyerah, percayalah bahwa proses tidak akan menghianati hasil.
Mapan itu definisinya sederhana kok. Yang penting utamanya ialah berinvestasi, sebab itulah yang sebenarnya membuat keuanganmu lebih nyaman nantinya. Kesiapan versimu seperti apa? Share ya!